Adzan adalah panggilan untuk sholat.

Dan bagaimana hukum nya bila wanita yang beradzan?
Tanya jawab ini diuraikan oleh A.Hassan, Moch.Ma’sum dan H.Mahmud aziz
dalam Buku Tanya Jawab Soal Agama
T: Bolehkah wanita ber-adzan?
J : Tiap-tiap suruhan agama pada asalnya tidak ada beda antara laki-laki ataupun wanita kecuali didalamnya termuat keterangan yang menegaskannya. Begitu juga adzan, pada asalnya boleh dikerjakan oleh laki-laki atau wanita.

Tetapi dalam masalah ini ada dua pendapat yang berbeda, ada yang mengatakan           b o l e h dan ada yang berkata  t i d a k  b o l e h.

Yang berpendapat tidak boleh,berkata, bahwa hadist-hadist yang menyuruh adzan semuanya dikenakan kepada laki-laki saja. Tidak ada satu suruhanyang ditujukan kepada wanita.Hal itu menunjukkan bahwa adzan dibenarkan untuk laki-laki dan bukan untuk wanita. Tambahan pula Nabi Besar MUHAMMAD S.A.W, ada bersabda:

لَيْسَ عَلَي النِّسَا ءِاَذَانٌ وَلاَاِقََََا مَةٌ

( ح رالنجاد )

Artinya: ” Tidak ada (perintah ) adzan dan iqomah atas wanita “.

(H.R.  AN-NAJJAD)

Ibnu ‘Umar juga berkata demikian. Lagi sabda Rasulullah S.A.W:

اِنَّ مِنَ النِّسَاءِعِيًّاوَعَوْرَةًفَكُفُّوْاعِيَّهُنَّ ﺒِﺎلسُّكُوْتِ وَوَارُوْاعَوْرَاتِهِنَّ باِلْبُيُوْتِ

( ح ر العقيلي )

Artinya: “Sesungguhnya kelemahan dan ‘aurat itu, (shifat) orang-orang wanita ; oleh karena itu, tutuplah kelemahan mereka dengan diam, dan sembunyikanlah ‘aurat-‘aurat mereka dengan tinggal di rumah-rumah”

( H.R. Al-‘Uqailie )

Dalam hadist ini ada perkataan: “tutuplah kelemahan mereka dengan diam”. Maksudnya “Wanita-wanita tidak boleh mengeraskan suara mereka.

Dengan hadist-hadist ini terang dikatakan bahwa wanita tidak boleh beradzan, karena didalamnya ada larangan wanita bersuara keras, sedangkan adzan diucapkan dengan suara keras.

Yang berpendapat wanita boleh beradzan, berkata bahwa agama membolehkan adzan itu untuk umum; baik laki-laki ataupun wanita, tidak ada bedanya.Adapun hadist yang diriwayatkan oleh An-Najjad itu, tidak kedapatan shahihnya.

Hadist riwayat Al-‘Uqailie itu, selain dari dla’ief, sebagaimana dalam keterangannya dalam Al-Jami,ush-Shaghier, tidak juga menunjukkan larangan wanita beradzan. Kalau juga menunjukkan hadist itu shah, maka makhsudnya tidak lain, melainkan wanita dilarang berbicara keras. Dengan larangan bersuara keras ini, tidak berarti terlarang wanita beradzan,untuk menyerukan satu suruhan Agama.

Oleh sebab itu bolehlah wanita beradzan. Pendapat tersebut, diperkuat dengan satu riwayat, yang bunyinya:

عَنْ عَا ئِشَةَاَنَّهَاكَانَتْ تََُٶَذِّنُ وَ تُقِيْمُ وَتَٶُمُّ النِّسَاءَوَتَقُوْمُ وَسْطَهُن

ﺍﻠﺤﺎ ﻜﻢ ﴿

Artinya: “Dari ‘Aa-isyah, bahwa ia pernah beradzan dan beriqomah dan wanita-wanita dan ia verdiri di tengah-tengah mereka.”

( R.Haakim )

Berkata Imam Syafi’i : “Tidak ada bagi wanita-wanita (perintahan) adzan, jika mereka sholat berjama’ah ; tetapi kalau mereka adzan dan iqomah, maka tidaklah mengapa”.

Di jaman Nabi, Sahabat, Thabi’ien dan imam-imam, tidak terdapat wanita-wanita yang beradzan buat umum.

Riwayat-riwayat yang mengatakan wanita beradzan, beriqomah atau jadi imam itu , nampaknya diantara wanita-wanita atau di rumah sendiri.

Nanti kalau sudah tidak ada laki-laki lagi yang bisa beradzan, bolehlah kita fikirkan urusan bilaal wanita.

Al-Muhalla 3 : 129-140, Al-Mughni 1 : 390-443, Al-Um 1 : 61-73, Al-Mudawwanah  1 : 36, Nail 2 : 27, Al-Mustadrak 1 : 204, Al-Jami’ 1 :97, Bughyatul Mustarsyidin 37

A.Q.